Tinggalkan komentar

Mendung tak Berarti Hujan

hujanGemericik air yang akhirnya menjatuhkan dirinya dikala sang surya berada tepat pada sepenggala langit. Walaupun dengan waktu yang tak menentu dan mungkin tak dapat dipastikan keberadaannya. Aromanya yang begitu khas dengan kesejukan, meskipun terkadang kepulan tanah basah yang sedikit mengganggu indera penciumanku. Diiringi dengan irama rintikan yang menjadi alunan melodi penghantar akan anganku. Rintisannya yang berkali-kali menimpa dedaunan, begitu pula dengan butiran-butiran kecil yang berdatangan dari ujung helai rambutku. Entah mengapa keindahan alam yang satu ini tak jua pergi dari anganku, tak luput akan ingatanku, seraya ingin menetap dan mengakar hingga tak akan lekang oleh waktu, tak mungkin terbakar walau dalam kobaran api, tak mungkin membeku sekalipun dalam tikaman bebatuan runcing dari alaska, tak’kan gugur walau arah melintang, dan tak lapuk oleh peradaban.

Sebegitu melekatnya arti sebuah karunia Tuhan dalam pancuran air dari langit-Nya. Mereka menyebutnya dengan hujan.

Hujan yang entah dan mengapa kedatangannya selalu berhembuskan akan berbagai kisah yang semua insan pasti menyimpannya. Hujan yang dengan kegigihannnya berjatuhan untuk kesekian kalinya demi menjalankan tugas dari-Nya. Hujan yang dengan kesetiannya menemani hingar bingar panggung sandiwara ini. Hujan yang sejatinya berkawan dengan asap putih pembawa kesejukan, ataupun kepulan awan hitam yang berkesan pembawa bencana. Hujan yang memang kehadirannya dinantikan oleh sang penyair dan penikmat duniawi. Atau mungkin hujan yang dibenci bagi para pembenci alam.

**********

Terlepas dari pengaruh sebuah hujan, namun hujan pun menyimpan kisahku. Meskipun air yang ditumpahkan kala itu mungkin tak’kan pernah sama dengan air-air selanjutnya. Entah mengapa hujan saat ini kembali menggiringku tuk merangkaikan kata demi kata, dan mengulang kisah tanpa makna yang sempat masuk dalam imaji kehidupanku seraya ingin menetap dan tak mau pergi. Sejujurnya tak ingin ku ungkap lagi, tak ingin ku mengingatnya lagi, dan tak ingin ku menuliskannya lagi. Namun, waktu yang semakin memaksaku tuk menguraikannya kembali.

Hujan, mentari, selasar, lorong, lobby, dan lift, serta dinding-dinding yang akan selalu menjadi saksi bisu akan tawaku di penghujung tahun lalu. Anugerah dan Karunia Tuhan yang mungkin tak’kan pernah mampu kudapatkan lagi, dan hadiah terindah dari-Nya yang mungkin tak dapat kurasakan lagi di penghujung tahun ini. Tuhan memberikan sebuah keajaiban dalam sepanjang usiaku hingga saat ini, yang tak mampu kugantikan dan kubalas.

Tuhan menghadirkan makhluk yang sempurna dalam tatapanku yang tepat menjelang suara adzan berkumandang. Tuhan menampakkan keagungan-Nya dalam sorotan tajam dengan warna cokelat tua yang menatapku dengan sedikit kegugupan yang mampu kubaca dari geraknya. Aku tak menampik dalam diriku yang mungkin jauh lebih menyimpan kegugupan dibandingnya. Namun, kembali ku menata sikap dan raut penuh tawa hanya tuk menetralkan kondisi kegugupanku ini. Terlepas dari kau menyadarinya atau tidak, akupun tak menemukan jawabannya. Entah mengapa Tuhan seakan telah merencanakan semuanya, hingga tak pernah kusadari akan detik demi detik yang berubah menjadi menit, hingga waktu yang nampaknya memperhatikan semua gerak gerik kita. Andai saja kau tahu begitu susahnya aku menyembunyikan kegugupan dari raut wajah dan tingkahku kala itu. Kuselipkan senyum dan tawa serta rangkaian kata yang terpatah-patah saat ku mulai meberanikan diri mengajakmu bicara. Hingga ku mampu melihat lengkungan sabit yang begitu indah dari raut wajahmu, seakan menjadi penyemangat dan penghilang rasa gugupku.

Anugerah Tuhan yang tak dapat tergantikan kala kutatap dengan tajam, dan lengkungan sabit itu yang berulang kali kau berikan, Seandainya kau mampu tuk menyadari bahwa itulah penyejuk yang melebihi apapun. Tuhan menganugerahkan senyuman indah yang tak mampu ku imajinasikan dengan lukisan, dan ku uraikan dengan butiran kata, dan itu semua ada dalam pribadimu. Mungkin kau tak pernah menyadari keajaiban yang Tuhan berikan, yang kau miliki dan kau amalkan padaku kala itu.

Ketakutan dan kepanikanku akan mendung, makin menjadi kala gumpalan awan kelam yang nampak dengan ganasnya ingin menghujam hamparan bumi kala itu. Hembusan angin yang kian berdesir hingga menimbulkan bunyi yang sama sekali tak pernah kusangka akan berkesan seakan dunia ini kan runtuh. Lorong unit yang semakin menunjukkan kegelapannya beserta pancuran air yang kemudian menghantam gedung-gedung pencakar langit ibu kota waktu itu. Entah mengapa aku merasa antara berada dalam zona nyaman dan kekhawatiran yang begitu menyesakkan dada, yang akupun tak mengerti sebabnya.

Namun kau seolah bersikap tenang seakan tidak sedang terjadi apa-apa. Kau pun melihat kepanikanku kala itu yang selalu berusaha kusembunyikan dalam-dalam. Hingga kau mengucapkan kata-kata sajak yang membuatku memendam ketakutanku dan sejenak melupakan rasa khawatir yang menjadi-jadi. Dengan sedikit kau memberi khayalan akan rintikan hujan yang sejujurnya indah dan menyimpan kenangan jika kita berdua duduk di bawah Gazebo dalam hamparan luas padang hijau akan rerumputan alam. Kau seakan mengajakku tuk berimajinasi dan menggambarkan dunia keindahan saat itu dan kita berada disana. Yaah,,kau seakan membuatku merasa nyaman hingga aku benar-benar melupakan rasa takutku.

“Mendung tak Berarti Hujan” 

Itulah kata yang melekat dalam ingatanku yang entah sampai kapan ku mampu mengingatnya. Apakah kau merasakan hal yang sama denganku saat itu ? Hanya Tuhan-lah yang mampu menjawabnya dan menggambarkan betapa indahnya waktu yang Dia berikan sebagai hadiah di penutup akhir tahun.

Seakan tak peduli akan waktu yang dengan segannya memberikan ruang kebebasan bagiku tuk menatapmu, mengenalmu, dan mencoba memasuki duniamu yang entah harus ku mulai dari mana. Namun, Tuhan tak sepaham sepertinya denganku kala itu. Belum genap ¼ hari ku menatap bola mata indah itu, dengan diiringi rintikan hujan ku berjalan tepat di sampingmu dan sesekali di belakangmu hanya tuk mengiringi langkah kepergianmu. Mengapa sesak yang kurasakan kian menghujam jantungku waktu itu, namun ku tak menemukan penyebabnya. Semakin sesak dan sungguh sangat sesak sekali rasanya tuk bernafas. Ku mencoba tuk menampik apa yang sejujurnya ku rasakan. Ku mengetahui, namun ku sangat ketakutan tuk mengutarakannya karena takut ini kan menjadi nyata.

Perjalanan singkat yang tak pernah kusangka akan menjadi duri tajam dalam ingatanku, dan peluru berdarah yang meretas hinggap hingga menetap dalam jantungku ini, membuat samudera lara dalam kehidupanku sendiri. Ketakutanku akan tak dapat melihat lagi lengkungan sabit indahmu, perlahan kau sirnakan dengan kata “Sampai ketemu lagi yaa Next Time”. Hembusan nafas kelegaan ku luapkan saat itu, namun tak dapat kuingkari jika resah akan tak mampu ku lihat lagi senyumanmu, yang semakin menjadi-jadi. Berat sekali rasanya menyaksikanmu kala itu. Tetapi hujan yang memanggilmu saat itu, memaksaku tuk melepasmu meski dengan keraguan hati yang sungguh luar biasa dalamnya.

Tuhan berkehendak lain, Dia seakan masih memberiku kesempatan tuk menatapmu. Kau yang kulihat telah berdiri di ujung jalan, dan entah apa yang merasuki jiwa dan pikiranku saat itu, hingga ku membalikkan badanku yang kemudian berlari di bawah hujan hanya tuk menemanimu sekali lagi seraya mengantarkan kepulanganmu. Kebaikan yang diberikan oleh Tuhan dengan memberikan sedikit waktu-Nya bagiku tuk berada disampingmu meskipun dengan jutaan rasa khawatir dalam diriku akan tak dapat melihatmu dikemudian hari. Hingga saat itu tiba, dan memang aku harus benar-benar melihatmu berjalan menjauhiku. Kau pun kembali mengatakan bahwa kita kan berjumpa lagi yang entah kau akan mewujudkannya ataupun tidak. Dan akupun tak ingin beranjak pergi hingga sama sekali tak kulihat bayanganmu dalam kepulanganmu.

**********

Waktu menjawab semuanya.

Hingga fajar yang berujung senja, dan senja yang pergi demi menyambut rembulan yang tak kunjung tiba, dan semua itu terus berputar dan datang bergiliran. Dan Tuhan seakan menamparku, dengan menampakkan dan mewujudkan ketakutanku saat berdua denganmu dalam kenangan bersama hujan.

Kini, ku harus merajut kisah tanpa makna seorang diri dengan tak lagi ku saksikan tatapan dan lengkungan sabit indahmu. Sembari ditemani dan diiringi oleh langkah-langkah kecilku dalam hujan yang tak bersambut. Bahkan hujan saat inipun tak’kan pernah sama dengan hujan di akhir tahun yang entah kau mampu tuk melukiskannya kembali atau sekedar melintas dalam ingatanmu. Bahagiaku adalah ketika Tuhan masih mengizinkanku tuk mengingatnya walaupun hanya sekedar mengenang dan tak terungkapkan.hujan1

Tinggalkan komentar

Balada Rona Kehidupan (Life is Process)

Roda-Kehidupan-Terus-BerputarKehidupan yang silih berganti seperti roda berputar. Bagaikan sepeda, jika ingin mendapatkan keseimbangan, kita harus mengayuhnya secara beriringan. Tidak mungkin kita berhenti dalam satu kayuhan, karena itu akan membuat kita terjatuh. Logikanya,,,,apa yang mampu kita lakukan saat terjatuh namun belum sampai pada tujuan,,,,,,??? Yah,,,’BANGKIT’ adalah true answer yang tak dapat ditawar lagi. Akankah kita diam di tempat,,?? Bagaimana jika letak dimana kita diam adalah di tengah jalan,,?? Atau di tengah rel Kereta Api,,??? Mengharapkan dan menunggu maut menjemput,,?? Lantas,,sudah siapkah menghadap Sang Ilahi dengan bekal yang kita punya,,?? Akankah kita menyalahkan garis Tuhan (takdir) dalam peristiwa ini,,?? Tuhan tak menciptakan hamba-Nya untuk menyerah dan diam terpaku. Tahukah kita bahwa Tuhan menyayangi kita lebih dari yang kita tahu,,?? Sesungguhnya jika kita mau melihat, menyaksikan, dan menyimak, serta mencermati ‘Apa siiih karunia Tuhan yang t’lah dianugerahkan untuk kita,,??’ tentunya kita malu dengan keputus asaan. Wake Up broo,, Get Up,,, Stand Up,, and Go Away,,, Lanjutkan perjalananmu,, Lanjutkan Petualanganmu,,, Lanjutkan Hidupmu.!!!

Saat kalian membacanya, mungkin kalian akan berkata ‘Munafik sekali si penulis ini, seperti tak pernah mendapat musibah aja’. Atau bahkan kalian akan mengumpat ‘An***G banget nih orang, Songong nya minta ampun, emang Lo lahir langsung dewasa gitu tanpa proses?’. Waaaoow,,itu sungguh kalimat terekstrim yang pernah saya dengar dari kebanyakan kalian. Siapa bilang saya terlahir mendadak dewasa dan sok motivasi begini.?? Yaah,,memang sulit dan kita tahu itu pasti akan sulit. Inilah yang dinamakan ‘PROSES’. Tak banyak dari kita yang sungguh tidak pernah menghargai proses malah lebih mengutamakan hasil. Saya paham akan itu. Tetapi sesungguhnya tanpa kalian sadari bahwa diri kalian saat ini, adalah proses yang telah kalian lalui di masa lalu. Bagaimana mungkin kalian tak menghargai proses sedangkan saat ini kalian masih bisa bernafas dan membaca artikel ini ??

‘Aku tak ingin membaca ini, karena ujung-ujungnya juga pasti begitu.’ Hehehe… itu sudah biasa, Bahkan sudah sering saya dengar. Alasan saya menganggap biasa karena saya pernah mengalaminya. Dan ketika saya belajar serta memaknai banyak nara sumber dari orang-orang di sekitar, ataupun literatur-literatur yang saya baca, memang benar adanya. Rasa Syukur itu tak mudah untuk didapatkan sekalipun mereka tampak nyata di depan kita,,atau bahkan dalam diri kita yang mana kita tak mau menyadari akan itu. Mengapa begitu,,?? Yaa,,karena kita terlalu sibuk untuk berokus pada musibah. Hingga lupa bahwa udara yang masih dapat kita hirup dengan baik, detak jantung yang mampu kita rasakan, darah yang masih mengalir dalam tubuh kita, serta otak yang mampu menggerakkan semuanya dengan sempurna,,apakah itu bukan karunia ?? Apakah itu sebuah musibah,,?? Apakah itu sebuah kutukan,,?? Tentunya kita tahu bahwa ini adalah anugerah terindah dari Tuhan. Siapkah kita jika salah satunya diambil oleh-Nya,?? Jika tidak, mengapa kita meremehkannya,,??

Kurangnya pengetahuan akan ilmu Tuhan, dan minimnya manusia yang memahaminya, itulah sebab dan alasan mengapa ‘terpuruk dan bunuh diri’ itu ada bahkan marak terjadi. Tuhan tak menyukai hamba-Nya yang berputus asa. Hhmm,,,,.. “Baiklah kalau begitu aku akan diam saja dan menunggu takdir berjalan” inilah alasan yang biasa kita sebutkan kala kita malas atau berpangku tangan dengan musuh besar kita yaitu “USAHA”. Atau istilah orang Jawa “opo jare seng Kuoso wae lah”..hahaha.. Sebegitu renyahnya kita mengucapkan ini. Namun, Tuhan juga tidak menyukai hamba-Nya yang berpangku tangan. Takdir memang akan tetap berjalan seperti bayangan yang tak mungkin lepas dari kita. Bayangan,,adalah bentuk dimana kita berada saat ini.

Setidaknya kita pernah berusaha, dan memaknai usaha yang t’lah kita lakukan sebagai suatu bentuk perjuangan. Teringat akan sahabat saya (Dina) yang selalu berkata pada saya bahwa “Jadikan Usaha sebagai ibadah, bukan semata-mata penentu kesuksesan”. Kesuksesan dalam arti luas tentunya. Tak hanya dalam bidang studi pendidikan dan pekerjaan, dalam kasus percintaan misalnya…hihihihihi. Mengapa saya mengatakan demikian,? Karena “Ranah manusia hanya sebatas berdoa dan berusaha, selanjutnya Tuhan yang menyelesaikan”. Satu hal yang dapat saya petik dari sekian banyak peristiwa yang umum kita alami “Proses tidak semata menentukan hasil, namun Hasil yang Baik dan Sempurna ditentukan oleh proses yang Maksimal”.

‘Lalu,,kau menjalani hidupmu dengan semudah apa yang kau tuliskan?’ itu mungkin pertanyaan sekaligus sindiran (hinaan) yang pasti ada dalam benak kalian ketika telah mendalami bait sebelumnya. Sejujurnya tak semudah itu kawan,,bahkan aku adalah bagian dari kalian yang selalu ragu dengan motivasi dan mungkin benci akan kata-kata motivasi. Aku adalah bagian dari kalian yang mudah terpuruk dan putus asa hingga sejujurnya ingin mengakhiri hidup (sedikit berlebihan)..hehe. Tapi itulah aku, yang tak mungkin dapat sempurna dengan berbagai ucapanku. Teringat akan firman Tuhan “Mendekatlah pada-Ku, maka Aku akan mendekat padamu” inilah salah satu dari yang membuatku bersyukur bahwa aku mempunyai DIA. DIA yang Maha Besar melebihi besarnya bebanku, Dia yang Maha Sempurna melebihi inginku, Dia yang menciptakanku dan memang sudah sepantasnyalah Dia mengatur hidupku. Pahamilah kawan,,,,ketika kita mengira hidup tak lagi berguna, Dia membuatmu jauh lebih berharga dengan masih memberikanmu kesempatan untuk menempati Surga-Nya kelak. Jika perjuangan kalian tak membuahkan hasil, mengertilah bahwa Tuhan sudah menyiapkan ‘PRICE’ atau hadiah sebagai bentuk perjuanganmu. Bukankah Tuhan itu Maha Adil,,?? Percayalah jika tak ada siapapun yang menilai, maka penilaian Tuhan jauh lebih berharga untukmu, kawan…!!! Tuhan menyayangimu lebih dari yang kau kira..

Balada rona kehidupan yang terus berputar dan tak pernah berjalan mundur. Waktu yang sejujurnya tak pernah bersahabat dengan kita, namun ketajamannya melatih kita tuk mampu menghargainya. ‘Heeii,,,mengapa harus aku atau kita,, yang menghargai waktu ? Mengapa bukan waktu saja yang menghargai kita sekalipun sedetik saja harusnya mengerti kondisi kita ?’. Mungkin sebagian dari kalian menginginkan hal itu terjadi. Tidakkah kaliah berfikir bahwa kalian t’lah dihargai banyak oleh waktu namun tak pernah kalian manfaatkan dan malah remehkan detik demi detiknya. Hhmmmm,,,, Siapa lagi yang akan kita jadikan sasaran kambing hitam atas kekeliruan yang kitapun bahkan tak ingat terakhir melakukannya kapan (saking seringnya).. Tapi tak mengapa karena itu wajar.

Sudah bisa saya pastikan bahwa kalian mungkin akan meragukan dengan apa yang t’lah saya jabarkan sebelumnya. Atau mungkin kalian akan meremehkan dan mengatakan ‘nih orang banyak cincong sumpah demi apapun’. Atau mungkin sebagian dari kalian berfikir ‘ohh iyaa yaa,,bener juga ya apa kata orang ini’ (bagi yang telah sadar)…hehehe just kidding brooo…. Setiap manusia berhak berpendapat dan mengutarakan pendapatnya, tak terkecuali bagi si penulis ini. Perlu kalian ketahui bahwa kedewasaan sesorang dapat dilihat ketika dia sedang mendapat problem dengan tidak sibuk mencari kambing hitam, namun berusaha instrospeksi dan merubah diri. Bagaimanapun juga tak ada manusia yang ingin bersalah apalagi disalahkan. Saya tak berusaha menyadarkan pembaca, menyuruh untuk membuka mata dan melihat kehidupan, memaksa untuk memahami dan membuka pikiran,,tidaaak sama sekali tidak. !! Karena satu hal selalu saya mengerti dan pahami bahwa ‘Hidayah itu dijemput, bukan diharapkan’. Seperti yang telah saya baca dalam Firman Tuhan yang mengatakan bahwa ‘Tuhan tak akan merubah nasib seseorang jika orang tersebut tak berusaha tuk mengubahnya’. Saya paham akan yang pembaca semua alami dan saya mengerti memang tak semudah saya mengatakan hal ini. Bahkan saya pun selalu mengatakan pada sahabat saya “Gak segampang itu broo, ekspektsainya mudah, namun realitanya nihil.” Itulah yang selalu saya ungkapkan kala nasehat demi nasehat, motivasi dan semangat yang selalu diberikan darinya untukku tanpa kenal lelah. Sah-sah saja kalian beranggapan seperti itu, namun percayalah bahwa itu tak akan bertahan lama. Selama-lamanya kalian berpendirian teguh dengan apa yang kalian utarakan tak akan melebihi bulanan dan tahunan, jika kalian mendekatkan diri pada-Nya. Kembali lagi kepada apa yang telah digariskan Tuhan (takdir). Tidak ada yang salah dengan takdir. Sedikit saya berbagi tentang filosofi anak panah. “Mengapa anak panah?”. Yaah,, Tujuan dari anak panah ditarik ke belakang bukan untuk menyerah dan kalah melainkan agar siap meluncur dan memanah dengan baik. Semakin ditarik ke belakang, maka luncuran panahnya semakin jauh, kuat, dan sempurna. Seringkali kita terjebak dalam kondisi ketidaknyamanan namun entah mengapa sulit rasanya tuk beranjak mencari zona nyaman. ‘Saya sudah berusaha namun tak pernah bisa, selalu gagal, now what,???’ hhmm..saya pernah berkata seperti itu. Andai kalian tahu bahwa saat kita berkata seperti itu, alam bawah sadar kalian menangkap apa yang telah kalian bicarakan hingga akhirnya menjadi sugesti bahwa memang saya tak akan pernah bisa sekalipun berusaha sedemikian rupa. Apa yang terjadi sekarang, karena sugesti yang kalian ciptakan. Percaya atau tidak, itulah faktanya.

Membenci diri sendiri adalah perbuatan bodoh yang sungguh sangat hina. Berharap banyak orang menyayangi kita, namun kita saja membenci diri kita sendiri, So Impossible. Terkadang hidup itu seperti cermin, jika kita tersenyum padanya, maka dia pun akan memberikan senyuman pada kita. Dan itu selalu terjadi di pagi hari (The Mirracle of Morning). ‘Bagaimana mau senyum, masalah aja belom kelar dari kemarin-kemarin’ pasti itu yang selalu kalian ucapkan kala seseorang menyuruh anda untuk tersenyum. Ya memang begitulah adanya. Hal tersebut dikatakan wajar karena otak kita masih menyimpan dan berfokus pada satu masalah yang kita anggap besar. Ketika seseorang hanya berfokus/ berpusat pada satu pemikiran yang sebetulnya kecil (bagi orang lain), maka problem sebesar apapun dihadapan kita tak ada gunanya atau bahkan dikesampingkan hingga menjadi rudal yang siap meluncur kapanpun. Inilah alasannya, mengapa ‘profesionalitas’ sangat dibutuhkan. Ada sebagian orang yang beranggappan bahwa ‘Hukum rimba selalu berlaku’ dimana yang kuat-lah yang mampu bertahan. Dapat dikatakan masuk akal pola pikir yang seperti itu, namun jangan diartikan sempit. Kuat yang dimaksud disini adalah kuat dalam hal (sabar, pantang menyerah, dan ikhlas) bukan kuat fisik (emangnya mau adu tinju) hahahaha…

Bicara soal sabar dan ikhlas, naaah ini dia akar (sumber) sekaligus pemecahan terbaik dari masalah. Ilmu yang tidak dapat dipelajari dari sekolah manapun dan setinggi apapun studi pendidikan kita. Bahkan setumpuk literatur yang kita baca pun belum tentu mampu membuat kita paham dan menerapkan 2 ilmu ajaib tersebut. Mengapa saya katakan ajaib ? Silahkan coba saja.. hehehehe.. Menurut hasil riset sang penulis (weiitttzz,,,,gaya banget gw) Sabar selalu dikait-kaitkan dengan kata “MAAF”. Entah mengapa cara pandang masyarakat yang tak pernah berubah dengan selalu meremehkan manusia yang dikaruniai sifat mulia itu. “Aaahh,,bodo amat dah, mau salah bolak-balik juga ujung-ujungnya dimaafin,, tenang aja” Begitulah pandangan yang sering saya cermati dari kebanyakan kalian. Dalam hati saya bergumam “Sungguh kejam yang berkata seperti itu” tetapi apa daya, saya tak pernah ingin merubah pola pikir siapapun dalam hal apapun. Mungkin ini sebabnya ada yang menjuluki saya (Makhluk paling TOLERAN ke-7 versi On The Spot) hehehe…. Namun ini bukan soal toleran atau eksistensi diri melainkan pemahaman akan karakter setiap manusia yang beragam dan memang tak semua orang mampu saling memahami. Berdasarkan hasil riset saya (dari tadi riset mulu neng,,,) hihi…(iyaa,,adanya begitu) bahwa ‘Sabar itu ada batasnya’ atau adapula yang dengan kesombongannya menyimpulkan bahwa ‘Sabar dan Bodoh itu Beda Tipis’. Hhhmm,,, setujukah kalian dengan 2 asumsi tersebut ? Terlepas dari persetujuan kalian ataupun penolakan kalian, yang perlu kalian pahami adalah ‘Sabar yang sesungguhnya adalah tanpa batas’ dan tak ada kata kebodohan dalam kesabaran. Sesuai dengan apa yang telah saya uraikan sebelumnya bahwa saya menggolongkan “SABAR” sebagai ilmu yang mulia. Jika kalian ingin mengetahui sebabnya, silahkan mencoba ! “Enak aja orang disuruh sabar, yang ada jadi bahan kalah-kalahan” umpat salah seorang teman saya ketika saya menyuruhnya untuk bersabar. Ketahuilah bahwa ‘Sabar’ bukan untuk mendapatkan piala kejuaraan, ini bukan soal menang ataupun kalah apalagi soal menunjukkan kekuatan dan kekuasaan. Memang saya tahu bahwa tak mudah untuk melakukannya dan ketika kita berada pada pihak yang lemah, tersakiti, atau bahkan terdzalimi, satu hal yang perlu kalian jadikan sebuah prinsip hidup bahwa “Balas dendam yang paling baik adalah Memaafkan” dan yang perlu kalian jadikan jati diri adalah “Bukan aku namanya kalau tak bisa sabar”. Sahabatku sekalian, ketika kalian tertegun dalam diam sambil berangan-angan dengan sedikit meratap “Mengapa Tuhan meletakkan kita di posisi ini,?” simpel saja jawabannya. Inilah cara Tuhan merindukan kita. Hargailah pemberian Tuhan barang sekecil apapun sekalipun itu tak nampak bagi kita, atau bahkan tak kita harapkan. Karena Tuhan yang menciptakan kalian, dan sewajarnya lah Tuhan yang mengatur kalian. Jika saja kita mengetahui bahwa apapun yang nampak dalam pandangan kita saat ini nantinya akan menjadi debu dan tak berharga di hadapan-Nya, tentunya air mata yang telah kalian uraikan pastilah kalian kumpulkan dan simpan rapat-rapat sebagai bentuk pertanggung jawaban saat menghadap-Nya. Realitanya memang tak semudah itu. Inilah yang dinamakan dengan sebuah ‘PROSES’. Hingga saat ini, masihkah kita tak menghargai proses ?

Tinggalkan komentar

Sepenggal Jejak di Jakarta (part 1)

Tepat pada bulan Mei di tahun 2014 waktu siang menjelang sore yang kebetulan bertepatan di hari Minggu. Hari dimana jadwalku tuk kembali bergelut dengan studiku di Surabaya. Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah pesan singkat dari seseorang yaitu saudaraku sendiri (My Aunt) yang ingin meminta contact person ku. Dalam hati ku bertanya “untuk apa, bukannya beliau sudah mempunyai kontak ku dengan lengkap”. Namun belum sempat ku menanyakannya, beliau berkata “ada yang ingin mencoba untuk mengenalku baik-baik”. Belum sempat pula ku menanyakan perihal identitas siapakah gerangan yang dengan keberaniannya meminta contact person ku yang notabene adalah Anak Ibu Kota. Setelah beliau (My Aunt) menyebutkan namanya, dalam hati ku berkata “Oh, kasus ini lagi. Kasus yang sempat menghebohkan studi ku 2 tahun lalu akibat keangkuhanku yang tak ingin mengenal siapapun hanya karena ku terlalu fokus dengan kuliahku dan setumpuk tugas yang nyaris membuatku gila”. Sesaat ku melakukan banyak pertimbangkan diantaranya yaitu studiku pun saat ini akan berakhir, dan juga entah mengapa selang 2 tahun lelaki ini ternyata masih mengingatku. Aku pun sempat berfikir bahwa “Tidakkah dia menaruh dendam padaku atas perlakuan angkuhku saat itu?”. Beberapa pemikiran membuatku tak se-angkuh dulu. Sangat diskriminasi sekali jika aku terus menerus meng-angkuh-i nya. Akhirnya, setelah melalui proses pertimbangan yang memakan waktu lama, hehehe (sebenarnya hanya hitungan jam), Dengan mengucapkan “Basmalah” akhirnya aku memberi izin kepada beliau untuk men-share contact person ku padanya. Tetapi, lagi-lagi sifat angkuh dan cuek ku kembali muncul dan kutampakkan pada seseorang di sampingku (mama) yang mengetahui perihal peristiwa 2 tahun lalu. Aku memasang wajah jutek sejutek-juteknya seolah tak ingin berkawan dengan siapapun. Namun, sebenarnya dalam hati ku sedikit tersenyum. Dalam anganku terbesit “Sepertinya gigih sekali perjuangannya, ku kira dia t’lah lupa dan mengurungkan niatnya tuk mengenalku saat 2 tahun berjalan, hihihi”. Setelah itu aku membalikkan badan dan beranjak pergi untuk berpamit demi memperjuangkan studi akhirku di Surabaya. Dalam perjalanan menunggu Bus PATAS yang menjadi favoritku, mama menasehatiku tuk berhenti bersikap cuek, angkuh, acuh tak acuh pada siapapun. Malas sekali ku mendengarnya hanya demi membela seseorang yang sama sekali belum dikenal. Kemudian, ada sesuatu yang bergetar di tanganku, dan saat ku lihat ada 1 undangan permintaan pertemanan dari seseorang yang …..hhmmmm sepertinya tak perlu ku sebutkan inisialnya….Karena nama terangnya pun tak nampak dan hanya tertera “2 huruf” saja dalam layar profilnya. Bahkan gambarnya pun berupa pemandangan alam. Sesaat ku tertawa kecil. Beruntung saja sebelumnya aku t’lah mengetahui perihal identitasnya yang entah itu benar atau salah. Hehe. Untuk yang kesekian kalinya keangkuhanku muncul. Aku berfikir “untuk apa aku membuka percakapan terlebih dahulu, bukannya dia yang meng’invite’ ku, sudah sepantasnya dia yang seharusnya membuka percakapan, dan aku tak peduli anggapan siapapun tentang aku”. Selang beberapa menit kemudian Bus yang ku nanti-nantikan akhirnya datang juga dan setelah bersalaman dengan mama, aku beranjak pergi.

“Assalamu’alaikum” itulah percakapan pembukaan yang dikirim untuk-ku. “Wa’alaikumsalam wr.wb” begitulah ku membalasnya. “Dini ya ?” tanya-nya. “iyaa” jawabku singkat. Sejujurnya aku sedikit tertawa membaca pertanyaannya yang konyol itu. Coba deh pikir, jelas-jelas nama sudah tertera dalam layar gadgetnya, untuk apa ditanyakan ulang. Memangnya kurang jelas begitu,? Daripada dia yang hanya menggunakan 2 huruf konsonan saja, hayooo….hehe. Kemudian percakapan kecil (obrolan ringan) terjadi saat itu. “Lagi dimana?” tanya-mu. “Lagi di dalam bus” jawabku. “Mau kemana?” kau kembali bertanya. “Mau balik ke Surabaya” jawabku. “Kuliah ya?” tanya-mu. “iyaa” jawabku sungguh singkat. Sungguh benar-benar konyol sekali percakapan singkat ini, namun entah mengapa aku tertawa dengan begitu gembiranya hingga tak kuperhatikan penumpang-penumpang di sekitarku yang menyaksikan kelucuanku saat itu. Kau pun sempat bertanya “How long?” untuk perjalananku menuju Surabaya. Naah,,ini..mungkin saking konyolnya aku saat itu hingga aku mengetik “97 km” yang kemudian aku pikir ulang, bahwa kau menanyakan waktu dan bukan jarak. Untung saja belum sempat terkirim padamu. Tak bisa kubayangkan betapa malunya ketika aku menjawab “97 km” tadi. Oh My God……hehehehe. Lalu kujawab-lah “2 hours”. Sok-sok an juga saya memakai bahasa Inggris hanya untuk membalas pesan konyol itu. Kau pun menanyakan bagaimana studiku saat itu yang kemudian kujawab “alhamdulillah lancar”. Mungkin karena mood ku yang sudah membaik dan dengan tertawa gila yang beberapa detik lalu kulakukan tadi, akhirya ku mulai membuang sedikit demi sedikit keangkuhanku. Hingga suasana yang sebelumnya menegangkan berubah menjadi hangat. Sambil menunggu percakapan selanjutnya, aku memutar alunan musik dengan genre ‘heavy metal’ yang sudah menjadi tradisiku kala dalam perjalanan kemanapun. Kemudian aku dikejutkan dengan balasan pesan darimu yang tanpa basa-basi alias to the point itu. “Kapan ke Jakarta?” tanya-mu. Dalam hati aku berfikir “wiihh,,anak satu ini, lucu juga pertanyaannya. Bisa langsung to the point begini”. Lalu ku menjawab “6 bulan lalu aku baru dari Jakarta. Yaa mungkin nanti kalau libur kuliah” jawabku. Sambil tersenyum aku berbicara dalam hati “rasanya tidak mungkin sekali tiba-tiba aku ke Jakarta hanya untuk liburan seorang diri, dan lagi kuliahku kan sudah di blacklist dengan kata Liburan. Maklum laah, namanya juga tugas akhir (skripsi). Mau liburan yaa miki-mikir dulu”. Kemudian kau menjawabnya dengan beberapa kalimat yang membuatku kembali tertawa konyol. “wuihh,,,lama doonk..Kalau aku yang ke Surabaya gimana,? Tapi aku gk ada saudara di sana. Bingung mau tinggal dimana.” jawab-mu. Terus terang saat kau menjawab dengan kalimat seperti itu, aku merasa benar-benar lucu dan konyol. Bagaimana mungkin seorang yang baru ku kenal ingin menuju Surabaya dengan tanpa sanak saudara dan tak mempunyai siapa-siapa yang dikenal di Surabaya. Aneh siihh,,tapi tersanjung juga..hahaha. Untuk mencairkan suasana, ku mencaoba untuk menjawab “itu soal gampang, ngemper di emperan Toko aja kan bisa..wkwkwkwk. Peace..hehe”. Kau pun membalas dengan “wkwkwkwkwk”. Begitu panjangnyaaa pikirku.

Hening sesaat, aku mengira bahwa sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan dan aku kembali melanjutkan aktivitasku (mendengarkan lagu) sambil sedikit merasakan kantuk namun tak dapat memejamkan mata karena sejujurnya aku masi dalam posisi senyum-senyum kecil.

“Alhamdulillah”. Begitu pesan status yang aku tuliskan kala aku telah samapi di rumah singgahku (kos). Saat itu tak kutemukan sahabatku (Dina) karena mungkin saja dia belum ingin kembali ke Surabaya. Tiba-tiba saja terdengar dering dari pesan singkat “BBM” yang entah mengapa aku merasa ingin segera membukanya. Kemudian tampak pada layar bahwa itu pesan singkat darimu. Entah mengapa tiba-tiba aku tak bisa menahan senyumku dikala itu. Apakah mungkin aku benar-benar t’lah membuang jauh-jauh keangkuhanku terhadapmu,,ataukah karena sebab lain. Tapi sejujurnya tak ada peristiwa lain yang membuatku tertawa selain efek dari percakapan konyol yang terjadi saat aku melakukan perjalanan menuju Surabaya. “Alhamdulillah, udah sampai ya?” tanya-mu. “iya, alhamdulillah udah” jawabku singkat. Lalu kau membalasnya “Ya udah, Met Istirahat yaa..”. ”iyaa, thank you” balasku dengan memberikan 1 emotikon smiley. “Ur welcome” jawabmu dengan memberikan emotikon yang sama sepertiku. Sejujurnya aku tak ingin membalas sesingkat itu. Namun, karena mungkin inilah sifatku dimana aku tak pandai berkata-kata, apalagi memulai pembicaraan. Itu semua adalah kelemahanku dalam hal berkomunikasi dengan orang baru. Sedikit introvert adalah sikapku. Kedengarannya memang sungguh aneh dan bertolak belakang. Banyak bicara, ceria, periang, motivator, dan humoris adalah sikapku. Namun sejatinya tak seperti itu bagi mereka yang tak mengenalku dengan baik dan secara mendalam.

Sesaat kemudian aku mulai merasakan kantuk, mungkin karena efek kelelahan akibat perjalanan jauuh. Hehe…. Sambil memutar kembali alunan lagu dan kali ini entah mengapa tiba-tiba aku ingin memutar lagu slow dengan irama jazzy sebagai pengantar tidurku saat itu. Ku mencoba menikmati lantunan musiknya hingga akhirnya ku tersenyum kemudian memejamkan mata dan terlelap.

Itulah percakapan singkat yang dapat dikatakan lucu, konyol, dan menyenangkan. Tak terasa percakapan singkat itu membuatku sedikit merubah sikapku dengan membuang sifat acuh, cuek, dan keangkuhan yang t’ah mendarah daging dalam diriku. Aku pun tak pernah tahu alasan mengapa aku menjadi seorang wanita yang sangat diam dan menutup diri seperti ini. Tapi ini bukan tentang membahas sikap ataupun watak. Hehehe….just intermezo saja laah.. Sempat terbesit dalam pikiranku, akankah percakapan ini berakhir sampai di sini dengan sedikit sekali bahan pembicaraan ? Ataukah akan ada percakapan-percapakan lain yang entah bagaimana ceritanya dan kelanjutan kisahnya. Aku pun tak ingin memastikan, karena hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui akan segalanya. Namun, satu hal yang menjadi catatanku dalam percakapan singkat ini, bahwa “Menyenangkan dapat berbicara denganmu” 🙂 🙂

Tinggalkan komentar

Aku dan Kesalahanku (Part 1)

Siapa yang tak mengenal dengan ‘takdir’ ? Siapa pula yang tak mengenal dengan Kuasa-Nya ? Sesungguhnya manusia diciptakan hanya tuk bersujud dan beribadah pada-Nya tanpa memandang alasan apapun. Bagaimana mungkin kita mengeluhkan akan satu musibah, sedangkan berjuta bahkan bermiliyar karunia-Nya selalu ada bahkan tercipta sempurna untuk kita ? Mungkin kita tak pernah sadar akan nafas yang selalu berhembus setiap waktu, detak jantung yang masih saja berdetak setiap saat, darah yang masih mengalir dengan sempurna, akankah kita dustai karunia-Nya yang tak mampu kita dapatkan dari penjuru dunia manapun ? Lalu, hanya karena satu peristiwa saja kita lupa akan kemurahan hati-Nya yang tiada batas untuk kita ?

Kesabaranku diuji kala kenyataan yang tak sesuai dengan harapan dengan apa yang t’lah dijanjikan. Mungkin semuanya menganggap ini adalah kebodohan, ketololan, suatu hal yang percuma bila diteruskan. Namun mereka lupa, bahwa mereka bukanlah aku yang saat ini ada dalam posisi sulit. Sejujurnya bukan dari keinginanku tuk beranjak pergi meninggalkan tanah kelahiran yang t’lah membesarkan dan menjadikanku berdiri tegar hingga saat ini. Karena tak mudah bagiku tuk mengambil keputusan ini dan meletakkan aku dalam posisi menyakitkan ini. Sejujurnya aku bukanlah seorang pengeluh dan pengemis perhatian, atau penampung lara. Memang aku tak pernah menginginkan ada di posisi ini. Tetapi Tuhan berkata lain. Dia tahu bahwa aku wanita yang kuat sehingga Dia menitipkan ujian ini padaku. Hingga ketika ku mengeluh, aku mempunyai tugas tuk menghitung dan mencermati berjuta orang disekitarku yang dapat dikatakan kurang beruntung.

Aku tak akan memulai kisahku dalam postingan ini. Dan yang telah kutuliskan hanyalah sebagai pembuka kisah dari perjalanan mematikan ini. Maaf jika keterpaksaanku tuk menuliskan kata ‘mematikan’ yang sejujurnya tak sedrama itu, atau mungkin lebih drama yang akupun tak mengerti maksud dan tujuan dibalik peristiwa itu. Sejujurnya banyak tokoh-tokoh yang menginspirasiku tuk membuat karya sederhana ini, yang mungkin tak semua orang ingin membacanya. Seperti salah satu contoh yaitu seorang ‘Zainudin’ dalam cerita “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck”. Siapa yang tidak tahu kisah Zainudin dalam tokoh tersebut yang begitu mengenaskan dan tragis dalam urusan cintanya. Seorang pemuda yang dikatakan beruntung, namun sesungguhnya tak pernah benar-benar beruntung. Pemuda yang dibuang, dijatuhkan, kemudian bangkit, lalu dijatuhkan kembali, kemudian bangkit kembali, dan dijatuhkan lagi, hingga akhirnya dia mampu bangkit menjadi pemuda yang kuat yang entah bagaimana cara Tuhan membuatnya menjadi seorang yang tegar dan pantang menyerah itu. Dia telah banyak makan asam garam kehidupan. Namun ini bukanlah mengulas cerita tentang Zainudin. Melainkan pribadinya yang menginspirasiku tuk menjadi seorang yang kuat, seorang yang tak mengenal lelah untuk kata ‘bangkit’. Seseorang yang telah berkawan dengan keterpurukan. Entah ini dapat dikatakan klasik, ataukah happy ending, ataukah sebaliknya yaitu sad ending ?

2 Komentar

Senjaku Yang Hilang

SENJAKU

SENJAKU

Andai lisan dapat menyampaikan apa yang sejatinya t’lah melumpuhkan logika ku. Andai desir dedauan yang gugur mampu terbang dan sampaikan imaji ku di kala itu. Andai pula sang merpati dapat berkicau seraya memberi isyarat bahwa senjaku tak lagi ada. Senja yang kedatangannya selalu kunantikan di penghujung hari. Senja yang selalu pancarkan sinar indahnya seolah menghapuskan kepenatan. Senja yang selalu menjadi alasanku tuk berbagi akan keindahannya. Senja yang selalu menjadi penyebab akan kegigihanku bertahan di antara ketidakpastian akan esok hari. Senja yang membiusku dengan warna cantik namun tersipu malu di balik gumpalan awan kelam. Senja yang menjadi penerang dikala rintisan hujan berjatuhan tak menentu. Senja yang menyimpan cerita antara aku dan kenangan beserta puisinya.

Aku pun tak mengerti mengapa waktu seakan tertawa menyaksikan kegilaanku mencari senja. Waktu yang dengan ketajamannya merampas senja-senja sumber inspirasiku. Waktu yang menghunusku tanpa ku tahu sebabnya. Waktu yang bengis, yang kemudian dengan lantang menyuarakan keberhasilannya sembari menari menatap mangsanya yang meraung kesakitan.

Aku tak ingin mengatakan bahwa itu adalah senja terakhirku. Namun, waktu t’lah menyudutkanku dan memaksaku tuk berbicara yang sesungguhnya tak ingin kulakukan. Lantas, apakah aku harus mengaku tuli, ataukah berpura-pura tuna wicara agar mendapat pengampunan dari sang waktu ? Bagaimana jika Tuhan mengutukku ? Bagaimana jika Tuhan mengabulkan ucapanku ? Sungguh ironi jika ku meminta waktu tuk mengerti akan ku. Sungguh bodoh jika ku bersujud dan mengharap iba darimu (waktu). Berharap pengertian, kebijaksanaan, ampunan,,??? Waktu tak pernah ingin berkompromi dengan hal-hal konyol itu.

Maaf, jika senja itu nantinya akan menjadi senja terakhir yang mungkin tak nampak begitu indah bagi mu. Harapku tak banyak. Simpanlah. Dan ingatlah, ketika kau menatap senja selanjutnya,,,,Setidaknya Senja Terindah pernah kusampaikan padamu.